Bakalrejo — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Posko 96 Desa Bakalrejo menggelar Seminar Kesehatan Mental bertajuk “Unlearning Perfection: Menerima Aku, Memeluk Segala Kurangku” pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kegiatan yang dilaksanakan di Yayasan Al Amin, Desa Bakalrejo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak ini diikuti oleh 25 peserta.
Mengusung tagline “Berdamai dengan Diri, Bertumbuh Tanpa Membenci”, seminar tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk memahami pentingnya penerimaan diri dan mengenali kebutuhan diri sebagai bagian dari proses perkembangan individu. Kegiatan dikemas secara interaktif melalui pemaparan materi, warming up, ice breaking, hingga sesi refleksi melalui terapi musik.
Kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pembagian snack. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta sambutan dari Koordinator Desa Bakalrejo. Setelah rangkaian pembukaan selesai, peserta mengikuti warming up untuk mencairkan suasana dan membangun keterlibatan peserta sebelum memasuki sesi utama seminar. Rangkaian kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi pertama mengenai penerimaan diri.
Pada materi pertama, peserta diajak memahami makna penerimaan diri sebagai kemampuan untuk mengenali dan menerima diri secara utuh, baik kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki. Peserta diarahkan untuk tidak terus-menerus menuntut dirinya menjadi sempurna, melainkan belajar menghargai proses dan kondisi diri yang sedang dijalani.
Pembahasan mengenai penerimaan diri kemudian menjadi pengantar menuju materi berikutnya. Sebelum memasuki pembahasan mengenai hierarki kebutuhan, narasumber terlebih dahulu mengenalkan sosok Abraham Maslow, tokoh psikologi yang dikenal melalui konsep hierarki kebutuhan manusia. Pengenalan tokoh tersebut diberikan agar peserta memiliki gambaran mengenai latar belakang pemikiran yang mendasari konsep piramida kebutuhan Maslow.
Setelah pengenalan tokoh, dua narasumber kemudian menyampaikan materi mengenai hierarki kebutuhan Maslow. Peserta diperkenalkan dengan tingkatan kebutuhan manusia yang digambarkan melalui piramida, mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan penghargaan, hingga aktualisasi diri. Materi tersebut kemudian dikaitkan dengan proses individu dalam mengenali kebutuhan dirinya dan berkembang menuju potensi yang dimiliki.
“Kadang kita terlalu sibuk mengejar versi diri yang sempurna sampai lupa bahwa diri kita yang sekarang juga layak untuk diterima. Lewat seminar ini, kami ingin mengajak peserta untuk berhenti sejenak, mengenali perasaan mereka, dan belajar berdamai dengan diri sendiri,” ujar Bella, salah satu anggota KKN Posko 96.
Untuk membuat suasana tetap interaktif, peserta juga mengikuti sesi ice breaking di antara pemaparan materi. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk kembali membangun energi dan fokus sebelum melanjutkan pembahasan mengenai hierarki kebutuhan Maslow.
Salah satu sesi yang menjadi bagian penting dalam seminar adalah terapi musik. Sesi ini digunakan sebagai ruang refleksi bagi peserta setelah memperoleh materi mengenai penerimaan diri dan kebutuhan manusia. Terapi diawali dengan penggunaan instrumen lagu Rapuh dari Agnes Mo untuk membangun suasana reflektif.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak untuk lebih tenang, menghayati perasaan, serta merefleksikan pengalaman yang berkaitan dengan penerimaan diri. Setelah itu, peserta diajak bernyanyi bersama menggunakan lagu Runtuh dari Feby Putri. Suasana seminar menjadi lebih emosional ketika sebagian besar peserta mulai menangis selama sesi berlangsung.
Meskipun tidak semua peserta menunjukkan respons emosional yang sama, tangisan yang muncul menjadi salah satu respons yang terlihat selama proses refleksi. Peserta diberikan ruang untuk merasakan dan mengekspresikan emosinya masing-masing tanpa adanya tuntutan untuk menunjukkan respons tertentu.
“Saat terapi musik berlangsung, kami melihat banyak peserta yang mulai terbawa suasana dan mengekspresikan emosinya melalui tangisan. Menurut kami, itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Justru dari sana peserta bisa belajar bahwa merasa sedih, lelah, atau tidak baik-baik saja adalah hal yang manusiawi,” ungkap Safira, anggota KKN Posko 96.
Setelah sesi terapi musik, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab. Peserta diberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan narasumber dan membahas kembali materi yang telah disampaikan. Sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai penerimaan diri serta hierarki kebutuhan Maslow dan menghubungkannya dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Putri, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang tetap dibawa peserta setelah seminar berakhir. “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti ketika seminar selesai. Semoga peserta bisa membawa satu hal sederhana dari sini, yaitu belajar menerima dirinya sendiri tanpa terus membandingkan atau membenci kekurangan yang dimiliki,” ujarnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi bersama dan penutupan. Melalui Seminar Kesehatan Mental “Unlearning Perfection”, mahasiswa KKN Posko 96 berharap peserta dapat memahami bahwa proses menjadi pribadi yang lebih baik tidak harus diawali dengan membenci kekurangan diri.
Melalui semangat “Berdamai dengan Diri, Bertumbuh Tanpa Membenci”, seminar ini menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki proses dan kebutuhan yang berbeda. Menerima diri bukan berarti berhenti berkembang, melainkan menjadi langkah untuk mengenali diri, menghargai proses yang sedang dijalani, dan terus bertumbuh tanpa harus kehilangan rasa kasih terhadap diri sendiri.
Penulis: Bella Aprilia, Safira Nurul Isna & Muhammad Iqbal Alfiantino — Divisi Kesehatan Lingkungan Posko 96 Desa Bakalrejo. ***
